2 hari berturut – turut ini saya mengadiri sebuah acara yang sangat bertolak belakang satu dengan yang lainnya. Sabtu tgl 5 januari 2008 saya dibangunkan paksa oleh salah satu temen kost saya yang memberitakan ayah dari salah satu temen kost kami meninggal karena terjatuh dan pembuluh darahnya pecah. Kepergian ayah santi ini tanpa sakit terlebih dahulu yang berarti kematian beliau begitu mendadak (Turut Berduka Cita ya Santi..).
Segera kami bersiap melayat dan menghadiri prosesi pemakaman beliau, dan hanya berbekal petunjuk menuju kediaman santi, kami berlima mencoba mraba daerah pekayon yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi. Sesampainya kami di gang yang menuju ke ruma santi, santi sudah mengahmbur ke pelukan kami dengan tangisan yang membuat ulu hati kami semua ngilu…kami hanya terdiam, masing-masing menahan untuk tidak ikut menitikkan airmata..tapi akhirnya pecah juga tangis diantara beberapa dari kami.
Banyak pelayat yang sudah datang di rumah santi, dari teman kerja, teman kuliah (santi kebetulan melanjutkan kuliahnya untuk meraih gelar sarjana akuntansi sambil bekerja), saudara, tetangga, dan kerabat sudah memenuhi tenda yang didirikan mungkin dari semalam. Aura yang kami dapati adalah aura sedih dan tangis, ditambah suasana hujan rintik dan dominasi baju yang berwarna hitam dari pelayat – pelayat yang datang, rasanya sangat tidak masuk akal jika disitu ada suara tawa.
Jenazah ayah santi sudah di mandikan, dan akan dikafani, ketika kemudian santi dan seluruh anggota keluarga inti (ibu santi, adik dan kakaknya) dipanggil kembai ke rumah untuk terakhir kalinya melihat wajah ayahnya sebelum dikafani. Kami ikut masuk ke dalam rumah untuk melihat muka beliau untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Muka beliau telah di beri taburan pewangi, seluruh tubuhnya sudah dibalut dengan kain kafan kecuali bagian muka. Di depan saya, santi berpelukan erat dengan ibunya ketika sama – sama memandangi muka orang tercinta yg juga kepala kelaurga mereka untuk yang terakhir kalinya. Seolah saling menguatkan mereka berpelukan sangat erat, sampai saya melihat kuku jari santi memucat. Kami semua terdiam, ikut larut dalam suasana haru tersebut, sekitar 10 menit kami terdiam dan sama2 memperhatikan sampai kemudian penguru jenazah bertanya “sudah cukup?”, dengan anggukan lemah santi dan ibunya mengiyakan, dan setelah muka jenazah ditutup ain kafan, ibu santi terkulai lemas, tidak sadarkan diri, mungkin beban ketabahan yangmencoba ia kuatkan dari semalam sampai di titik kulminasi pada saat dia sadar bahwa saat itulah saat terakhir dia melihat orang yg sangat dia cintai seumur hidupnya.
Sampai dengan 1 jam kemudian, prosesi pemakaman di TPU Pondok Kelapa masih berlangsung, ketika kami sampai di sana, liang lahat beserta tenda sudah terpasang. Dan enazah mulai diturunkan. Sani dan sang bunda kembali saling memeluk menguatkan ketika melihat jenazah diturunkan, dan sampai dengan mulai di urug dengan tanah, lapis demi lapis. Pada saat itulah, ketabahan yang santi sajikan ke kami dari kami datang pagi tadi luluh, dia merosot dari pelukan sang ibu, dan terkulai ditanah merah..santi pingsan…
Kami usung santi k salah satu mobil kerabatnya, dan akibatnya dia tidak bisa mengikuti prosesi doa di pemakaman tersebut, karena lemas..Tabah ya San…
Pulang dari melayat,sepanjang jalan, masih terbayang dengan jelas..ucap terima kasih yg lirih dari ibu santi ketika kami mengungkapkan duka cita yang dalam atas kepergian kepala keluarga mereka, badan ibu santi panas, demikian juga dengan badan santi saat kami pamitan dan memeluknya, kami ingin memberi sebuah kekuatan untuk santi dan keluarganya atas musibah besar yang mendadak tersebut, kami yakin mereka tidak siap dengan kondisi tersebut, tapi maut tidak pernah memilih waktu dan sasaran bukan?? Kami hanya berharap santi dan keluarganya diberi ketabahan dan arwah sang ayah dapat diterima disisiNya..
Dan kondisi sarat dengan duka itu berbalik 180 derajat diesokan harinya, saya menghadiri pernikahan rekan kerja saya sewaktu di astra. dengan sedikit tergesa-gesa, karena 2 sahabat laki-laki saya tidak menjemput saya di kost, tapi ketemu di UKI (pesta berlangsung di kediaman mbak lastri di daerah cibitung), andri membawa mobil dengan kecepatan diatas 100 km/jam menembus tol..karena memang undangan pernikahan dari pukul 12.00 sampai 16.00, dan mereka berdua baru berganti baju batik pada saat mobil sudah terparkir di halaman rumah mempelai, berganti baju di dalam mobil, merapikan rambut dengan air mineral gelasan yang beli di jalan (lupa bawa minyak rambut :( ) untunglah, setidaknya mereka sudah mandi dan pakai parfum hehehehehehe....
Sesampai kami di acara resepsi, semua aura menjadi sangat penuh dengan suka ria, semua tamu mengenakan baju terbaiknya. Dengan dandanan istimewa, bau parfum semerbak, hiasan dan rangkaian bunga yang sangat indah dan lampion cantik di tenda besar serta berlimpahnya makanan penggugah selera di meja2 hidangan (saya kelupaan makan es krim coklat..dan kayaknya baksonya dari jeroan deh…duuhh...) Para tamu yang datang, semuanya tersenyum, saling menyapa gembira, bersalaman dengan tatapan bahagia…apalagi ketika melihat kedua mempelai bersanding, rasanya mereka berhak mengklaim bahwa pada hari itu merekalah orang yang paling bahagia di muka bumi ini ;p, dengan balutan kebaya merah marun dan jilbab yang berhias wangi bunga melati, temen saya terlihat bagai bidadari, dan kalo bahasa salah satu temen laki-laki yang hadir pada saat itu, “dia terlihat lebih muda dari usianya ya?” hahahahahahaha….tapi dia bener kok…setidaknya rekan saya itu memang terlihat sangat cantik di balutan baju pengantinnya..Mbak Lastri, Happy Wedding, semoga diberi kebahagiaan pernikahan hingga di ujung usia nanti..amiinnnn
2 hari ini, saya melihat dua suasana yang saling bertolak belakang, suasana dengan larat belakang 2 emosi dasar manusia yang sangat drastic, sedih dan senang..dan terasa sangat kontras suasana di keduanya. Karena saya termasuk orang yg mudah terbawa suasana dan emosi, saya pun dengan sangat cepat terlarut dalam suasana tersebut, masing2, dengan tangisan dan tawa. Saya dan sahabat – sahabat saya datang memang hanya sebagai pelengkap suasana, dengan penyesuaian kami, kami hanya butuh 1 – 3 jam untuk ikut merasakan apa yang telah terjadi, bahagia..kami ikut merasa bahagia, dan saat duka, kami juga terlarut dalam tangis.. tapi tetap, yang akan menjalani kelanjutan dari kebahagiaan pada hari minggu kemarin adalah mbak lastri dan mas mirza atau kelangsungan hidup yang harus dilanjutkan tanpa kehadiran kepala rumah tangga lagi yang harus, mau tidak mau dijalanai oleh santi dan keluarganya..saya hanya satu komponen yang hanya bisa turut mendoakan..untuk yang terbaik, bagi mereka 2 orang sahabat. yang juga melengkapi kisah hidup saya, dan yang mengisi lembaran cerita di memori kehidupan saya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comment:
...
lo cualo?
Post a Comment