Kekasih sahabat saya pernah mengatakan bahwa “ hidup di jakarta
memang penuh dengan kesibukan, bukan sibuk untuk meniti karier tapi kita sibuk untuk bertahan hidup”, tanpa harus berpikir lebih lanjut, pernyataan tersebut memang sangat benar..absolut, setidaknya dalam frame berpikir saya sampai dengan detik ini. Dua tahun bertahan di jakarta, masih tatp menjadikan saya bukan siapa – siapa, setidaknya bukan orang yang diperhitungkan oleh banyak orang, itu baru saya, baru 2 tahun..dan saya teramat yakin ada banyak individu2 yang lebih lama dari saya, lebih dahulu mencoba peruntungan di jakarta
, berbelas, atau bahkan berpuluh tahun yang lalu, masih juga belum menjadi siapa – siapa... Banyak hal yang menjadikan pernyataan tersebut benar, berbekal ijazah dan transkrip nilai dari sebuah perguruan tinggi, nekad mencari peruntungan di ibukota ini, tanpa bekal pengalaman bekerja yang bisa diperhitungkan, mungkin saya bukan termasuk orang yang beruntung...mendapatkan pekerjaan di satu kawasan elit ibukota, digedung mewah dan lingkungan kerja yang sangat modern, pekerjaan yang saya dapatkan, hanya sebatas rutinitas tanpa koma, membuka hari dengan telepon dan salam, bertumpuk aplikasi yang harus di konfirmasi...sampai dengan ucap selamat malam, saya hadapi karena keinginan bertahan hidup tadi...yah..hitung2 pengalaman kerjalah...namun setelah terlewat waktu sekian bulan sampai dengan kata yang terucap terhapal “ selamat pagi pak/bu, saya dari Bank ...., mohon bantuan bla..bla..bla...sangat hapal, sampai sering terbawa mengigau dalam tidur..kemudian karena tawaran untuk penghasilan yang sedikit lebih besar dan atas nama mempertahankan hidup saya mencoba peruntungan dengan pindah pekerjaan...pekerjaan berikutnya dengan sekian tantangan yang menunggu, lingkungan kerja kondusif, temen2 bersahabat, tapi di satu sisi, uang tidak ada, perusahaan bangkrut..!!mencoba bertahan 7 bulan dalam kondisi ketidakpastian tersebut dengan uang yg semakin menipis, alternative memasak pastilah menjadi pilihan utama, memasak nasi putih dan setelah nasi masak, tinggal berbekal garam, bawang merah dan bawang putih plus sedikit penyedap rasa dan saos dan sedikit minyak goreng, jadilah nasi goreng yg ...kalian tahu, rasanya sangaaaattt nikmat jika disantap dalam kondisi sangat lapar, meski tanpa lauk sedikitpun…7 bulan, setiap hari makan dengan menu yg sama persis dan sempat terbersit pemikiran mungkin seperti inilah rasanya orang dipenjara..sampai kemudian kembali dengan bahasa demi bertahan hidup, saya mencari peruntungan lain... Dengan pertimbangan bahwa saya harus mendapatkan uang secepatnya, lowongan dengan alternatif ‘walk in interview’ menjadi pilihan utama, dan berbekal keyakinan akan pengalaman berucap salam setiap hari di sebuah bank swasta nasional, untuk posisi operator premium call adalah lebih banyak peluang yang pasti saya dapatkan...dengan berblazer rapi, meski kedodoran karena pinjam ke teman kost, saya melangkahkan kaki menuju gedung mentereng di kawasan gatot subroto..resepsionis mengantarkan saya masuk untuk bertemu dengan interviewer saya, dengan bahasa pembuka “ mami, ini orang yang mau di interview” Masih dengan prasangka baik, saya memulai sesi interview, yang semakin jauh semakin mengejutkan...sang mami berkata.. “mbak, kami ini perusahaan premium call untuk dewasa, mbak tau sendiri kan, yang biasanya teriklan di halaman depan pose perempuan menantang, nanti jika mbak gabung dengan kita, mbak tidak akan menggunakan nama asli mbak, tapi mbak akan menggunakan nama udara,kita sama-sama dewasa, ini jakarta ya mbak.. untuk ukuran sarjana, saya yakin wawasan mbak lebih banyak, jika dalam pembicaraan mbak per telepon dengan klien dapat diarahkan ke pembicaraan selain sex, saya sangat appreciate, tapi most of man call here to talking about sex. Jam kerja kami terbagi menjadi 3 shift, perbulan gaji yang akan diterima sejumlah 400ribu, dan setiap kali berhasil menghandle 1 menit pembicaraan , mbak akan mendapatkan fee 100 rupiah” kaget..tentu saja, dan meskipun kesan awal dengan melihat pekerja diruangan tersebut semuanya berbalut busana super seksi, yang menurut pikiran orang kampung seperti saya, agak sedikit janggal..saya tetap berusaha untuk bersopan ria..dan sang mami kembali berucap “jika mbak bersedia, mbak besok datang trus ketemu dengan yang namanya X, untuk proses training”..gila, semuanya diolah secara profesional..dan satu kata penutup lagi “ jika diluar jam kerja, mbak mau bertemu dengan klien mbak, itu diluar tanggung jawab perusahaan, hanya 3 syarat yang kami cantumkan, mbak tidak boleh mengatakan nama perusahaan, alamat dan no telp kantor ini, itu harus dirahasiakan”..ok, keep smile and always say thank you...pamit undur dengan baik-baik karena majupun dengan baik-baik.. Kabur dari gedung yang mengejutkan tadi, saya mencoba peruntungan berikutnya, sekali lagi atas nama demi bertahan hidup di jakarta, gedung selanjutnya berjarak 1 km masih di jalan yang sama. Uang di saku hanya tinggal 2000 rupiah, tanpa sisa untuk kembali ke kost yang butuh naik bus 2 kali. Maka berjalan kaki adalah pilihan terbaik..ditengah hari, berbaju rapi, dengan tentengan tas besar dan map berisi lamaran kerja, dan tanpa keberanian menyisihkan 500 rupiah dari 2000 tadi, untuk membeli minuman kemasan gelas..sepanjang jalan yang terngiang lagu sarjana muda iwan fals,lengkap sampai dengan kata ‘maafkan aku ibu’.. Satu minggu kemudian, tawaran ditugaskan ke kalimantanpun saya ambil untuk mempertahankan hidup, banjarmasin..i’m coming...dan 2 bulan yang saya belanjakan dibanjarmasin tidak juga membuat saya lupa terhadap magnet jakarta, dengan segala pelik masalah dan tantangannya..akhirnya berbekal alasan yang tercipta bersama teman saya tercinta, saya kembali ke jakarta...kembali mencoba tantangan berikutnya.. Sampai di jakarta,saya mencoba peruntungan mendaftar menjadipolisi laboratorium forensik POLRI, karena masih mencoba untuk mempertahankan idealisme saya, saya tidak mau dibantu “orang dalam”..seorang jendral, maka sayapun tidak berhasil menembus seleksi tersebut, hal tersebut malah sedikit saya syukuri, karena menjadi polisi berarti kurus, rambut pendek dan hitam...sedikit kurang nyaman untuk berpenampilan sangar ala polwan...lepas dari gagal seleksi, saya kembali mencoba sibuk bertahan hidup dengan mencari jodoh..yang sekarang mau tidak mau sudah menjadi rutinitas hidup saya, kenalan ke kanan dan kekiri..dicomblangin, dijodohin teman..herannya kok ada saja yang tidak match...sampai karena info dari salah seorang teman lama, saya mengajukan diri untuk bekerja di sebuah perusahaan well establised di indonesia.. Masuk ke sistem teratur, mengikuti sistem bentuka orang, dengan supervisi maksimum dan ketat membuat saya merasa berada di neraka lapis pertama....tawaran penghasilan yang bagi sebagian orang yang mengadu nasib di sudirman dan sekitarnya adalah cukup besar, tidak juga mengurangi niatan saya untuk segera mengakhiri pekerjaan tersebut, karena motivasi dari orang – orang terdekatlah, saya merasa punya kekuatan untuk melanjutkan perjuangan saya, tentunya dengan step demi step saya akan mencoba mengurangi cengkraman supervisi maksimum yang menurut saya sangat meng’anak kecil’kan... Namun satu tahun setelahnya, saya akhirnya mendapatkan angin segar dengan berkesempatan untuk mengundurkan diri tanpa harus merasa bersalah terhadap pimpinan tertinggi yang sudah banyak menolong saya..saya bebas menentukan apa yang harus saya lakukan hari ini sendiri....ternyata memang bukan jaminan hidup bahagia karena bekerja di perusahaan raksasa yang sudah teratur.. Ternyata mencoba peruntungan untuk bertahan hidup di jakartamemang sangat menyibukkan dan sangat menyita waktu, bahkan saya mendapatkan banyak protes dan komplain dari sahabat – sahabat saya karena saya tidak pernah membalas sms mereka...mereka menduga saya dengan sengaja melupakan dan meninggalkan mereka..padahal..apalagi uang digunakan untuk berbalas sms, sekedar untuk makan saja saya kerepotan..saat itu baru saya meyakini kebenaran ucapan sepupu saya pada saat saya di wisuda...dia bukan mengucapkan selamat atas selesainya perjuangan saya dikampus, tapi dia mengucap..welcome to the real jungle...!!sepakat banget.... Dan detik ini, dihadapan notebook pribadi saya, saya punya akses penuh untuk menciptakan sistem melalui kepala saya sendiri, dengan metode yang saya yakini benar, dengan supervisi yang sangat minimum....dan saya merasa patut merayakan kemenangan saya dengan diri saya sendiri...sekarang..ada issue yang ingin saya lempar ke anda semua....mana yang anda pilih..menjadi ekor harimau atau kepala ayam???anda sendiri yang bisa menilai kan..seberapa jauh mental anda...piss
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment