November 13, 2007

Dia

Aku mencintai dia dengan segenap hatiku..dan mungkin perasaan itulah yang membuat aku dengan tidak sadar punya keinginan untuk mendominasi hidup dan pikiran dia untuk terus berpikir ttg aku seperti aku juga berpikir ttg dia selama ini.dia sudah menguasai alam pikiranku, secara total..dia benar2 mendominasi hidup dan hari2ku untuk tidak dapat melihat sisi menarik yang mungkin terdapat dalam diri laki2 lain…seperti candaan yang sering dia lontarkan kepadaku, bahwa “saya memang membebaskan kamu untuk bergaul dengan siapapun, laki-laki manapun, tapi saya tutup mata kamu agar tidak bisa melihat kebaikan lelaki lain”…ironis bukan, candaan dia seratus persen benar, dan kami seringkali entah secara serius ataupun bercanda sudah sama – sama tahu bahwa yang kami lakukan adalah sebuah kesia-siaan..tapi yang terjadi adalah ketika tekad untuk menjauh dan menghilang dari hidupnya akan luruh berantakan ketika aku berhadapan kembali dengannya, ketika aku menatap matanya, ketika dengan begitu lembut dia menyusuri wajahku dengan punggung jarinya…aku mencintainya, dan tidak mungkin meninggalkannya..semata2 bukan karena aku tidak mau menemuinya lagi, tapi selain itupun aku berbicara ttg egoisitasku, bahwa aku butuh akan dia..
Mungkin memang egois berpikir aku menikmati setiap detik saat aku bersama dengan dia, tapi apakah aku tidak boleh merasakan dekapannya hanya untuk sekian menit, apakan aku tidak boleh merasakan kelembutannya untuk sekian menit dari seluruh hari2nya..yang dalam hitungan minggupun, belum tentu aku mendapatkan waktu untuk bersamanya sekian menit..haruskah aku selalu menuntut, mendahului pertemuan dengan marah, ngambek, untuk sekedar menyatakan secara tersirat bahwa aku demikian merindukannya…apakah aku harus selalu terlihat seperti perempuan yang tidak tahu diri ketika aku menuntut sekian persen dari seluruh waktunya diberikan untukku???
Jika boleh memilih, aku akan lebih tenang menunggu dia datang memberikan waktunya dengan sukarela ke aku? menghabiskan waktu yang dia berikan bukan sekedar formalitas ataupun tanggungjawab moral karena kedekatan kami. aku ingin setiap dia bersamaku, yang terasa hanya kenyamanan dari gerak tubuh dan tatapannya, gurauannya, kemesraannya…
Setiap aku berusaha memancing emosinya..agar dia membenciku…setiap itu pula aku terluka..aku menyakitinya dan aku menyakiti diriku…
Aku sakit…yah.realita itu seperti sebuah tamparan keras di kehidupanku dan mungkin sebuah isyarat dari Tuhan bahwa aku harus secepatnya melupakan dia, aku harus membunuh rasa dalam diriku, aku harus melangkahkan hidupku…mungkin jika penyakit ini tidak datang, aku akan berpikir untuk terus menikmati peranku disisinya, sampai benar2 egoisitasku terpenuhi..sampai dengan aku bisa memilikinya dengan seutuhnya…jahat sekali ya aku…..
Disaat lain, aku sadar bahwa aku harus berjuang untuk hidupku sendiri, aku harus secepatnya membuka mata dan hatiku..mungkin memang cinta tidak harus memiliki, tapi apakah aku salah ketika aku meratap dan terluka pada saat aku benar2 merasakan arti mencintai yang sebenarnya namun aku tidak mampu menyempurnakannya, karena keadaan yang sangat tidak memungkinkan…

Seringkali..aku bergurau ingin meminta buah cinta kepadanya..setidaknya itu akan menghapus luka dengan menggantikan posisinya dengan seorang anak yang mewakili keberadaannya dala hidupku, seorang bayi yang akan memberiku kasih saryang seutuhnya dan bisa aku miliki, sebagai perwujudan dirinya dan buah cintaku..(aku tidak berani menyebut buah cinta kami, karena aku yakin, dia tidak akan setuju dengan sebutan itu)meski dan meski, aku bisa melihat apa yang dia rasakan terhadapku di tatapan matanya..Kadang aku sangat berharap, dia katakanan sesuatu yang buruk ttg aku, sesuatu yang melecehkan harga diriku..aku ingin dia membuatku membencinya…aku ingin dia membuatku berpikir bahwa dia bukan manusia sempurna dalam pikiranku, yang selalu mengganggu pikiranku setiap kali tidak ada sesuatu yang menarik perhatianku, dan segala yang penting yang aku kerjakan dan bisa membuat pikiranku bisa melupaknnya sejenak hanya bertahan tidak lebih dari hitungan menit…Aku sadar yang aku lakukan sangat membebani perasaannya, kmrn aku sempat mendengar cerita salah seorang sahabatku, bhawa ketika sahabat perempuannya yang lain measa cemburu karena dia menghabiskan waktu dengan orang lain, ketika dia tertawa2 dengan orang lain, ketika dia tidak pernah menamuinya lain, dan menuntut serta terlihat mulai berusaha mendominasi dia, dia sangat tidak nyaman dan setelah itu kunjungan ke sahabatnya itu hanya sebatas satu formalitas dan tanpa ada keihklasan, apalagi menikamati waktu yang terbelanjakan bersamanya…aku takut..dia akan berpikir hal yang sama seperti sahabatku..aku takut apa yang dia rasakan luntur dan bahkan hilang sama sekali akibat tuntutanku yang membuatnya kewalahan…tapi….aku hanya perempuan biasa, aku hanya perempuan yang membutuhkan kehadiran orang yang aku sayangi dan menyayangi aku setidaknya sekian jam dari 1 minggu yang ada dalam hidupku..aku tidak menuntutnya menemuiku setiap hari, aku tahu..selama ini..dari dahulu aku pernah menjalin kasih, aku bukanlah sosok posesif yang ingin selalu menghabiskan setiap detik bersama dengan orang yang aku cintai…bahkan aku menganggap berlebihan untuk cerita2 teman2 sebayaku ketika mereka mengatakan pada saat mereka mencintai orang dengan sangat, mereka akan meminta kekasihnya untuk selalu ada disampingnya, setiap saat, setiap detik dalam hidupnya…..tidak..demi tuhan aku tidak pernah berpikir seposesif itu..Aku tidak berdaya..benar2 menderita..bukan olehnya..seperti yang selama ini dia klaimkan ke aku bahwa seolah2 aku berusaha memberitahukan bahwa aku dibuat menderita oleh apa yang dia lakukan…aku sedih mengetahui dia berpikir seperti itu..aku hanya perempuan biasa..yang merindukannya ada disisiku, untuk menceritakan apa yang aku rasakan hari ini, untuk memelukku ketika penyakit keparat ini melakukan aksinya..untuk mendekapku ketika aku menangis dan merapuh..dan saat aku berusaha ikhlas dengan tidak adanya dia disampingku pada saat aku benar2 membutuhkannya..aku hanya mengatakan merindukannya secara langsung ketika apa yang aku rasakan benar2 tak tertahakan..dan selalu saja, itu salah waktu..aku tidak menderita karena dia, aku menderita oleh perasaanku sendiri, aku tersiksa oleh perasaanku sendiri, yang mungkin sangat berlebihan…
Aku dipaksa untuk membuka mata bahwa aku tidak mungkin menantinya..bahwa segala yang aku rasakan mungkin akan sia – sia disaat yang dia rasakan sudah mulai luntur dan hilang..yang mungkin juga aku ragu dia akan berubah..aku tidak pernah tahu secara langsung, seberapa besar yg dia rasakan kepadaku, sedalam apa yang dia alami ke aku…aku hanya menebak – nebak, berusaha menggali lebih jauh lewat tatapan matanya saat berbicara denganku, lewat sentuhan dan belaian lembutnya, lewat kemesraan dan bahasa tubuhnya, lewat pelukan eratnya…aku hanya menebak – nebak..dan aku yakin sebagian besar yang aku rasakan dan aku simpulkan adalah benar..


Aku ingin mengakhirinya..setidaknya aku mencoba bersikap egois dengan berpikir bahwa aku harus menyebuhkan penyakitku dengan mencari pasangan hidupku..dengan mencari seseorang yang bisa memberikan janin ke rahimku..ketika beberapa kali aku coba minta dari dia dan dia tolak dengan sangat jelas…aku harus merangkak perlahan untuk memulai hidupku lagi…
Aku limbung…tapi..tidak ada salahnya kan, kalo aku terus mencintai dia, setidaknya hingga tuhan menentukan hal lain, aku ingin memberikan kenangan indah disaat2 akhir keberadaanku dalam hidupnya..aku hanya ingin memberi dan memberi..aku harus selalu tersenyum..dan aku ingin memastikan dia baik2 saja, dia tidak terluka dan tersakiti lagi..aku hanya ingin memberikan kesan yang berarti selama 1,8 tahun kedekatan kami, aku ingin dia tahu..aku tidak pernah menyesal dengan apa yang telah aku alami, aku ingin dia tahu bahwa 1,8 tahun ini, aku merasakan rasa yang begitu indah…dan pengorbanan apapun tidak sebanding dengan indahnya apa yang akan aku kenang sampai nanti di akhir hayatku..
Aku yakin Tuhan pasti menyayangi aku, seburuk apapun yang telah aku lakukan dalam mengkhianati kasih sayangNya selama ini, Dia memberi peringatan bahwa aku harus cepat melupakan dia, yang disisi lain akan sangat menyakitkan, karena aku begitu mencintainya….dengan datangnya penyakit ini..namun, aku jadi berpikir bahwa mungkin aku ditakdirkan untuk tidak selalu menjadi baik disetiap jalan hidupku..aku akan berusaha memiliki anak dengan atau tanpa menikah..dengannya atau dengan orang lain..jikalaupun dia tidak akan mau memberikan janin ke rahimku, aku akan mencarinya dari orang lain yang tidak akan merasa terbebani dengan menanamkan benih ke aku….
Tuhan..aku sangat lelah..kenapa Engkau harus memberi hambaMu yang hina ini cobaan perasaan..mengapa Engkau tidak memberikan cobaan hambamMu yang hina ini dengan cobaan kelaparan, seperti 2 – 3 tahun yang lalu..hamba pasti bisa mengatasinya..tanpa pernah terpikir untuk menganggapMu tidak adil…
Bisakah Engkau karuniakan perasaan yang seindah ini buat hambaMu yang hina ini, untuk hamba pasrahkan kepada sosok lain, kepada lelaki lain, yang boleh hamba miliki sepenuhnya???
Tapi, sudahlah..aku mencintainya..meskipun jika harapan kami terkabul bahwa suatu saat kami akan saling melupakan, aku tetap ingin mengingat bahwa saat itu begitu indah..dan aku tidak yakin akan bisa mencintai lagi dengan kapasitas rasa yang sama.
Dan sementara menunggu saat itu sadang, aku ingin memberikan kenangan termanis untuk dia, untuk hidup dia, sampai jika suatu saat nanti aku sudah pergi dari hidupnya..dia tidak akan menganggapku membuatnya menderita…aku akan berusaha membuatnya bahagia, nyaman, meski itu harus dengan melawan keinginanku sendiri selaku perempuan yang merindukan pelukan laki-laki yang dia cintai…
Aku akan tetap berada disampingnya, hingga saat dia katakan atau ucapkan sesuatu yang mengindikasikan tidak adanya lagi rasa yang sama dalam dirinya untukku…mungkin, ketika saat itu datang..aku akan undur diri dengan segala ketabahan dan kekuatan hatiku..aku yakin, aku bisa tegar, meski itu tidak mudah..tapi aku pernah berhasil untuk mentertawakan nasib 2-3 tahun yang lalu juga bukan??? Dan aku berhasil bangkit dan berjuang sendirian menghadapinya…aku yakin..aku perlahan – lahan belajar untuk bisa mentertawakan nasib dan takdirku yang sekarang..dan aku tetap akan seperti dulu, berhasil berjuang sendirian dan aku akan sangat menyesal seandainya suatu saat nanti bertemu kembali dengannya pada saat dia sedang tidak bahagia atau terluka…aku hanya ingin membuatnya bahagia karena aku demikian mencintainya…..


No comments: