Memaafkan…..adalah satu kata ajaib yang sempat saya rasakan lama..sampai kemudian saya menemukan bahwa kata yang sangat jarang keluar dari mulut saya itu amatlah ampuh untuk mengubah dengan drastis suasana hati seseorang…dan keajaiban besar itu saya temukan disebuah taman kanak – kanak di Surabaya, kota tempat saya menuntut ilmu.
Dari seorang anak kecil, saya belajar untuk mengatakan maaf dengan mudah dan ikhlas, dari seorang anak kecil, saya belajar memaafkan dengan tulus…..
Anak kecil tersebut merasa telah berbuat sebuah kesalahan besar dengan menabrak dengan tidak sengaja lutut temannya pada saat dia meluncur di lantai masjid….tempat acara lomba mewarnai anak TK se - Surabaya dilangsungkan, dimana saya waktu itu bertindak sebagai panitia….ringan..dan dengan penuh kesungguhan, dia mengatakan maaf dengan wajah tulus dan penuh pengharapan…maaf….dan sungguh..entah kenapa, saya tergetar melihat pemandangan sederhana itu.
Segalanya memang dimulai dari saat kita dalam tahap pendidikan yang sangat dasar, di sekolah tersebut, semua guru selalu mendahului teguran dg kata maaf dan dilanjutkan dengan bahasa yg sangat santun..tanpa ada kata “jangan”, “tidak boleh” atau dengan intonasi keras sekalipun.. dan mau tidak mau, apa yang menjadi kebiasaan para guru tersebut menular ke anak didiknya, karena fase alpha pada manusia yang lebih besar terkandung pada saat manusia masih kecil akan berperan penuh pada daya ingat masa kanak – kanak..
Mungkin pada saat saya masih dalam tahap piker alpha, saya tidak mendapatkan banyak pelajaran bijak mengenai minta maaf, bertutur sesantun mungkin..karena seingat saya, gaya bertutur saya sudah sangat santun J..dan saya tidak pernah merasa bersalah, jd orang tua jarang menyuruh minta maaf, yg ada setiap kesalahan yang saya buat, bukan maaf yang harus diucapkan sebagai langkah penyelesaikan..tapi sebuah konsekuensi dan hukuman…kebetulan saat saya kecil, kata2 jarang mempan di kepala saya.. J..
Jadilah saya seorang yang kata banyak orang angkuh untuk meminta maaf..tapi bukan berarti saya enggan untuk mengucap satu kata itu..hanya berat untuk terucap meski dengan tidak pernah bisa mengatakan itu perasaan bersalah yang saya rasakan jauh lebih berat dan jauh lebih besar..karena dikalilipatduakan. Rasa bersalah dan rasa tidak bias meminta maaf karena kesalahan tersebut..
Sungguh, dilubuk hati yang paling dalam, saya ingin sekali belajar meminta maaf ataupun memaafkan dengan tulus..dan pembelajaran itu baru saya dapatkan dari teman satu kamar di kost pada saat saya semester 4..bayangkan, betapa terlambatnya saya belajar untuk sesuatu yang sangat mendasar pada suatu jalinan relationship manusia..
Teman satu kamar kost saya selalu dengan sangat tulus mau meminta maaf, sekecil apapun kesalahan dia, dan melihat dia setelah dia meminta maaf, begitu terlihat enteng dan santai saya mulai berusaha untuk ikut menerapkan kebiasaannya..
Pelan namun pasti, saya terbangun dari tidur panjang keangkuhan saya. Saya benar-benar belajar dari level yang paling mendasar sampai dengan sesuatu yang lebih prinsipil..meminta maaf dengan sangat tulus, yang siapapun bis amelihat ketulusan tersebut dari tatapan mata saya..
Sekarangpun, bukan berarti saya adalah orang yang setiap saat selalu meminta maaf ataupun saya peralat kata tersebut sebagai sebuah legalitas untuk berbuat sebuah kesalahan..saya masih juga dalam tahap belajar, dan saya berusaha sekonsisiten mungkin untuk berada di jalur yang saya yakini…memang terbukti, semuanya lebih melegakan ketika bias mengalahkan keangkuhan dan jujur pada diri sendiri, termasuk mengaku salah. Namun mohon dimaafkan, saya juga hanyalah manusia yang masih belajar..dan akan terus belajar untuk meminta maaf dan tentu saja untuk memaafkan..
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment